Jawaban atas pertanyaan di atas adalah YA.  Bukan saja kita diizinkan untuk menghakimi orang lain, melainkan kita dituntut untuk melakukannya, jika kita mengakui memegang standar Kristus.  Kekristenan menuntut kita untuk menghakimi kita sendiri dan orang lain sesuai dengan standar (ukuran) yang benar.
    Ada beberapa teks di dalam kitab suci dimana sebuah pernyataan dibuat, jika diambil di luar konteks nampaknya melarang kita untuk menghakimi, tetapi dengan investegasi lebih jauh ke dalam masing-masing teks ini seseorang dapat dengan benar berpendapat bahwa penghakiman yang munafik dan tidak adil adalah yang di larang.  Tolong di-ingat bahwa adalah mustahil bagi sebuah teks dari ayat-ayat suci untuk membatalkan teks lain dari ayat-ayat suci dan masih dapat di anggap Firman Allah.  Firman Allah adalah kebenaran dan tidak bertentangan dengan dirinya sendiri.  Jika sesuatu itu benar, maka ia akan selalu benar.
    Bagaimana orang-orang Kristen dapat membawa Injil kepada orang-orang yang sesat, jika seseorang tidak dapat menghakimi?  Perhatikan apa yang dikatakan oleh Tuhan, “Pergilah kamu ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada sekalian makhluk” Markus 16:15.  Adalah suatu fakta bahwa seseorang harus menghakimi orang lain yang berada di dalam dosa dan memerlukan Injil sebelum kita dapat memberitakan Injil kepada mereka.
    Ketika rasul Paulus pergi ke Asia kecil dan memberitakan Injil kepada orang-orang kafir, itu disebabkan karena dia menghakimi bahwa mereka memerlukan Injil.  Jika kita tidak boleh menghakimi antara benar dan salah, bagaimanakah kita mengetahui apakah benar dan salah itu?  Jika kita tidak boleh menghakimi orang lain, maka tidaklah ada standar dari pada benar atau salah.
    Yesus mengajarkan, “Janganlah kamu menghakimi supaya kamu tidak di-hakimi” Matius 7:1.  Tetapi, apakah yang Dia maksudkan?  Beberapa orang telah menafsirkan ayat ini dengan cara yang sama dengan pendekatan mereka terhadap ayat-ayat lain di dalam kitab suci.  Beberapa orang mengambil beberapa kata dari sebuah konteks ayat Alkitab dan memaksa untuk mengatakan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.  Metode penafsiran Alkitab seperti ini adalah palsu dan tidak dapat di terima oleh pelajar-pelajar Alkitab yang serius.  Dalam Matius 7:1 Yesus tidak mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat menghakimi perbuatan dan perkataan orang lain.  Kita dapat memahami ini karena konteks dari Matius 7:1 berlanjut sampai dengan ayat 5, dan dengan jelas menyatakan bahwa menghakimi orang lain dapat di terima asalkan bukan menghakimi dengan cara yang munafik.  Dengan kata lain, jika Anda menghakimi orang lain, pertama-tama haruslah dipastikan bahwa Anda tidak bersalah dalam hal yang sama.  Jika Anda tidak mengikuti standar Firman Allah, maka kemudian Anda tidak berhak untuk menghakimi orang lain dengan standar itu.  Sebagai contoh, jika saya menghakimi orang lain dan menuduhnya sebagai seorang pembohong sebab Alkitab mengajarkan untuk tidak berbohong, saya sendiri tidak boleh berbohong.  Jika saya juga seorang pembohong, lalu ketika saya menghakimi orang lain, maka sebenarnya, saya sedang menghakimi diri sendiri.  Jika saya mengatakan kepada orang lain, “Anda akan masuk neraka karena Anda pembohong”, maka saya telah menghakimi diri sendiri untuk pergi ke neraka sebab saya juga seorang pembohong.  Jika saya melakukan hal yang sama dengan yang saya salahkan pada orang lain, ini namanya penghakiman munafik.  Inilah yang disalahkan oleh Yesus.  Tetapi jika saya bukan pembohong, jika saya mengikuti standar yang benar maka saya dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa dia adalah pembohong dan harus berhenti dari berbohong atau jika tidak dia akan dipersalahkan.
    Ada sejumlah peristiwa di dalam Alkitab dimana kita membaca tentang menghakimi orang lain.  Saya temukan menarik bahwa ketika kita membaca teks ini implikasinya jelas bahwa ketika seseorang menghakimi orang lain, dia harus melakukannya menurut standar yang benar.  Dalam Yohanes 7:24, 51 dan Yohanes 8:15, 16, Yesus menyatakan bahwa menghakimi dengan cara munafik atau menurut penampilan luar adalah tidak benar.  Implikasinya adalah bahwa kita harus menerima standar yang benar dari hukum dan menghakimi sesuai dengan fakta yang benar, dalam kasus itu kita di-izinkan oleh Yesus untuk menghakimi orang lain selama itu dilakukan dengan cara yang benar.
    Adalah menarik juga untuk di catat bahwa banyak orang yang menolak untuk di-hakimi akan menghakimi orang yang menghakimi mereka.  Jika kita menolak untuk di-hakimi, bagaimana kita menghakimi orang yang telah menghakimi kita?  Jika Anda berkata kepada saya, “Barry, Anda tidak mempunyai hak untuk menghakimi saya atau tindakan saya” tetapi orang itu telah menghakimi saya dengan mengatakan saya salah tentang menghakimi dia dan tindakannya.  Dengan otoritas apa dia menghakimi saya jika dia percaya bahwa kita tidak boleh menghakimi.  Biasanya jika seseorang merasa bebas untuk menafsirkan ayat-ayat Alkitab menurut yang dia sukai, dia selalu memakai penafsiran pribadi untuk mencocokkan dengan keperluan pribadinya.  Jika dia tidak menyukai menghakimi maka dia tidak akan mengizinkan orang lain untuk menghakiminya, tetapi dia akan menghakimi orang yang telah menghakimi dia.  Dimana letak konsistensinya dalam hal ini?
    Kita hidup di zaman dimana manusia percaya bahwa manusia-lah standar hukumnya.  Kita hidup di zaman dimana manusia percaya bahwa tidak ada Allah kecuali manusia sendiri, atau manusia yang mengatakan bahwa dia percaya kepada Allah tetapi hidup seperti dia tidak percaya kepada Allah.  Ke-dua posisi tersebut di atas jatuh di bawah kategori materialisme modern.  Roy Wood Sellars, pengarang pertama “Humanist Manifesto” sebuah dokumen yang diperuntukkan bagi kemajuan atheisme menunjukkan bahwa materialisme modern menentang standar apa saja dari nilai-nilai kemanusiaan dan peraturan-peraturan lain selain dari keinginan dan kebutuhan manusia dan bahwa materialisme modern berperang melawan segala bentuk otoritas dalam moral dan seni .... (diambil dari “Understand The Times” by David A. Noebel, halaman 115-116).  Hal yang disampaikan oleh Roy Wood Sellars adalah bahwa ketika orang-orang tidak mau di-hakimi, itu disebabkan mereka ingin tidak di ganggu agar dapat  mengikuti standar tingkah laku mereka sendiri.  Pernyataan yang mengatakan, “Anda tidak berhak menghakimi saya” adalah suatu sangkalan akan adanya satu standar yang dinyatakan kepada manusia yaitu Alkitab.  Yeremia mengatakan, “Aku tahu ya Tuhan bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya” Yeremia 10:23.  Jika ini benar, dan kita berjalan dengan Firman Allah, maka tidak menjadi masalah ketika orang menghakimi kita, sebab Allah akan menghakimi kita sesuai dengan hukumNya, Yohanes 12:48.  Tetapi, jika standar seseorang berasal dari manusia, maka kita dapat memahami bahwa dia tidak menginginkan tindakannya di-hakimi oleh orang lain.
    Rasul Yohanes mengatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu apakah mereka berasal dari Allah sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” 1 Yohanes 4:1.  Kata “roh” di dalam ayat ini adalah berbicara tentang orang.  Khususnya Yohanes mengatakan kepada kita untuk menghakimi pengajaran orang lain, dan jika pengajarannya tidak mengikuti standar yang benar, maka jangan mempercayai guru tersebut, tetapi menganggap dia sebagai seorang pengajar palsu.  Bagaimanakah seseorang dapat melakukan ini tanpa menghakimi?  Jika apa yang di-maksudkan oleh Yesus dalam Matius 7:1 adalah bahwa kita tidak boleh menghakimi, seseorang lupa untuk memberitahu Yohanes tentang hal ini.

1 komentar:

  1. Artikel yang bagus Bro. Admin...mohon ijin copas ya...nanti saya cantumkan link baliknya. GBU

    BalasHapus

Silakan memberi komentar yang masuk akal dan mendorong semangat untuk menjunjung tinggi kebenaran.